Di era industri modern, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian telah melakukan reformasi besar-besaran terhadap regulasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Regulasi terbaru, yakni Permenperin No. 35 Tahun 2025, membawa angin segar sekaligus tantangan baru bagi pelaku usaha. Salah satu perubahan paling signifikan adalah masuknya elemen kemampuan intelektual atau brainware sebagai komponen penambah nilai tkdn.
Lantas, mengapa hal ini sangat krusial? Faktanya, persaingan dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah kini tidak hanya melihat fisik barang semata. Pemerintah memberikan apresiasi lebih berupa tambahan nilai hingga 20% bagi perusahaan yang berinvestasi pada kecerdasan dan riset. Bagi Anda yang bergerak di sektor B2B atau B2G, memahami apa saja empat faktor penentu yang dinilai untuk mendapatkan tambahan nilai TKDN brainware adalah langkah strategis untuk memenangkan tender prioritas.
Bersama konsultantkdn.id ahlinya pengurusan sertifikasi tkdn, kita akan mengupas tuntas bagaimana elemen brainware ini dihitung dan dimaksimalkan agar produk Anda menjadi prioritas belanja negara.
Mengapa Brainware Menjadi Kunci?
Sebelum kita masuk ke teknis perhitungan, penting untuk memahami konteks perubahannya. Regulasi lama yang berbasis biaya (cost-based) dinilai memiliki kelemahan fundamental, seperti kompleksitas hitungan hingga ke vendor tingkat 3 dan celah manipulasi.
Oleh karena itu, Permenperin No. 35 Tahun 2025 hadir dengan pendekatan baru. Selain menyederhanakan perhitungan material dan tenaga kerja, aturan ini memberikan insentif khusus untuk pengembangan brainware atau Litbang (Penelitian dan Pengembangan). Tujuannya jelas: mendorong industri nasional agar tidak hanya menjadi tukang jahit, tetapi juga menjadi inovator teknologi.
Tambahan nilai dari brainware ini bersifat “bonus” di luar perhitungan dasar TKDN barang. Artinya, jika perhitungan material dan tenaga kerja Anda sudah menghasilkan angka tertentu, Anda bisa mendongkraknya lagi hingga maksimal 20% tambahan melalui skema ini. Tentunya, ini menjadi peluang emas bagi 4 faktor yang mempengaruhi nilai tkdn Anda secara keseluruhan agar melampaui ambang batas 40% (TKDN + BMP) yang diwajibkan.
Apa Saja Empat Faktor Penentu yang Dinilai untuk Mendapatkan Tambahan Nilai TKDN Brainware?
Berdasarkan Lampiran II Permenperin No. 35 Tahun 2025 dan resume sosialisasi terbaru, terdapat empat pilar utama yang menjadi penentu besaran nilai brainware. Pemerintah ingin memastikan bahwa klaim inovasi perusahaan Anda didukung oleh bukti nyata, bukan sekadar klaim di atas kertas.
Berikut adalah rincian empat faktor tersebut yang disajikan dalam tabel agar lebih mudah dipahami:
| No | Faktor Penentu (Brainware) | Bobot dari Total 20% Tambahan | Syarat Utama |
| 1 | Investasi Litbang | 30% | Rasio biaya Litbang terhadap pendapatan rata-rata 5 tahun > 2%. |
| 2 | Kepemilikan Divisi Litbang | 20% | Memiliki divisi in-house (100%) atau kerjasama pihak ketiga DN (50%). |
| 3 | Program Penelitian | 20% | Memiliki dokumen perencanaan, pelaksanaan, dan hasil riset. |
| 4 | Implementasi Hasil | 30% | Hasil riset diaplikasikan pada produk (paten, prototipe, efisiensi) |
Keempat poin di atas adalah jawaban detail atas pertanyaan apa saja empat faktor penentu yang dinilai untuk mendapatkan tambahan nilai TKDN brainware. Mari kita bedah satu per satu secara mendalam.
Strategi Memaksimalkan 4 Faktor Brainware

Untuk mencapai nilai tkdn maksimal, Anda perlu strategi jitu dalam memenuhi keempat indikator tersebut. Sebagai mitra strategis, konsultantkdn.id ahlinya pengurusan sertifikasi tkdn siap mendampingi Anda, namun berikut adalah wawasan teknis yang perlu Anda ketahui:
1. Investasi Litbang (Bobot 30%)
Faktor pertama ini berbicara tentang komitmen finansial. Pemerintah menilai keseriusan Anda dari seberapa besar dana yang dialokasikan untuk riset. Penilaian didasarkan pada rasio biaya Litbang terhadap total pendapatan (revenue) rata-rata selama 5 tahun terakhir.
- Jika rasio biaya Litbang Anda di atas 2%, maka Anda akan mendapatkan nilai faktor penuh (100% dari bobot 30%).
- Ini memaksa perusahaan untuk tertib administrasi keuangan, memisahkan pos biaya riset agar tercatat jelas saat audit.
2. Kepemilikan Divisi Litbang (Bobot 20%)
Apakah perusahaan Anda memiliki “otak” sendiri? Faktor ini menilai keberadaan struktur organisasi.
- In-house: Jika Anda memiliki divisi Litbang sendiri di dalam struktur perusahaan, Anda mendapat poin sempurna (100% dari bobot 20%).
- Outsource: Jika Anda bekerjasama dengan pihak ketiga dalam negeri (misalnya universitas atau lembaga riset), Anda hanya mendapat 50% dari bobot tersebut.
- Saran kami, bentuklah tim kecil yang didedikasikan khusus untuk pengembangan produk agar poin ini maksimal.
3. Program Penelitian (Bobot 20%)
Niat saja tidak cukup, harus ada rencana. Faktor ini mewajibkan ketersediaan dokumen yang runtut. Anda harus bisa menunjukkan dokumen perencanaan (planning), bukti pelaksanaan, hingga hasil penelitiannya.
- Dokumen ini menjadi bukti bahwa aktivitas riset dilakukan secara sistematis, bukan insidental.
- LVI (Lembaga Verifikasi Independen) akan memeriksa kelengkapan dokumen ini saat verifikasi lapangan.
4. Implementasi Hasil (Bobot 30%)
Ini adalah poin dengan bobot yang sama besarnya dengan investasi. Riset tidak boleh hanya berhenti di laci laboratorium. Hasil Litbang wajib diaplikasikan pada produk yang diajukan sertifikasinya.
- Bukti implementasi bisa berupa hak paten, adanya prototipe produk, atau adanya efisiensi proses produksi yang terukur akibat inovasi tersebut.
- Tanpa implementasi nyata, investasi besar Anda di poin pertama tidak akan mendongkrak nilai produk secara signifikan.
Baca juga:
- Mengapa Sertifikat TKDN Sangat Penting untuk Tender Pemerintah? Ini Syarat dan Tips Praktiknya!
- Cara Perhitungan TKDN Gabungan Barang dan Jasa Sesuai Permenperin 35/2025
- Rahasia Produk Dimsum Tembus Pasar Pemerintah: 4 Komponen Wajib Dipenuhi
- Pengurusan TKDN Lambat? Ini 5 Penyebab Utamanya Wajib Tahu!
- UMKM Bisa Menang Tender Pemerintah Lewat Jalur Khusus? Ini Rahasia 2 Skema TKDN!
Mengapa Harus Peduli dengan TKDN dan BMP?
Mungkin Anda bertanya, “Mengapa harus repot-repot mengejar poin brainware?” Jawabannya terletak pada hierarki prioritas belanja pemerintah yang diatur dalam Perpres No. 46 Tahun 2025.
Pemerintah menetapkan prioritas mutlak:
- Prioritas 1 (Wajib): Produk dengan nilai TKDN + BMP minimal 40%. Jika produk Anda memenuhi angka ini, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) WAJIB membeli produk Anda dan menggugurkan produk impor.
- Disinilah peran 4 faktor yang mempengaruhi nilai tkdn dari sisi brainware. Jika TKDN fisik barang Anda hanya 25%, namun Anda memiliki poin brainware 15%, total nilai Anda naik drastis, membuat produk Anda aman dari serbuan barang impor.
Selain itu, transparansi kini menjadi kunci. Proses verifikasi dipercepat menjadi 10 hari kerja (sebelumnya 22 hari), namun pengawasan diperketat dengan sanksi blacklist bagi yang memanipulasi data. Oleh sebab itu, pastikan data brainware Anda valid dan dapat dipertanggungjawabkan.
Memahami apa saja empat faktor penentu yang dinilai untuk mendapatkan tambahan nilai TKDN brainware bukan hanya soal kepatuhan regulasi, tetapi strategi bisnis cerdas. Keempat faktor tersebut investasi, divisi, program, dan implementasi adalah tangga menuju nilai tkdn yang superior. Dengan regulasi Permenperin 35/2025 yang berlaku penuh mulai Desember 2025, waktu Anda untuk berbenah sangat terbatas.
Jika Anda merasa kesulitan menavigasi regulasi baru ini, konsultantkdn.id ahlinya pengurusan sertifikasi tkdn siap membantu Anda membedah potensi nilai perusahaan Anda agar maksimal konsultasikan ➡️DISINI⬅️.
FAQ
Agar pemahaman Anda semakin utuh mengenai nilai tkdn, berikut kami rangkum beberapa pertanyaan krusial dari pelaku usaha:
1. Berapa persen nilai TKDN yang aman untuk tender?
Sebaiknya Anda menargetkan nilai gabungan TKDN dan BMP minimal 40%. Ini adalah angka sakti (“passing grade”) agar produk Anda masuk kategori wajib beli oleh pemerintah.
2. Mengapa harus ada TKDN Brainware?
Pemerintah ingin mengubah struktur industri dari sekadar perakitan menjadi industri berbasis inovasi. Brainware adalah insentif agar perusahaan mau berinvestasi di riset, yang jangka panjangnya akan mengurangi ketergantungan pada teknologi asing.
3. Apakah industri kecil bisa mendapatkan nilai ini?
Tentu saja. Meskipun Industri Kecil (IK) memiliki fasilitas Self-Declare yang gratis dan mudah, mereka tetap didorong untuk berinovasi. Bahkan, IK kini tidak lagi dibatasi nilai maksimal 40%, bisa mencapai 100% jika murni menggunakan bahan lokal.
4. Siapa yang memverifikasi nilai Brainware ini?
Verifikasi dilakukan oleh Lembaga Verifikasi Independen (LVI) yang ditunjuk Menteri, seperti Surveyor Indonesia atau Sucofindo. Mereka akan memeriksa dokumen investasi dan kunjungan lapangan.


Leave a Reply