Cara Hitung TKDN Industri Otomotif & EV Update 2025

·

·

Industri otomotif nasional, khususnya sektor kendaraan listrik (EV), kini menghadapi tantangan baru dalam pemenuhan cara hitung TKDN yang lebih ketat. Faktanya, Kementerian Perindustrian baru saja menerbitkan regulasi anyar, yakni Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 35 Tahun 2025 tentang Ketentuan dan Tata Cara Sertifikasi Tingkat Komponen Dalam Negeri.

Bagi Anda para pelaku usaha penyedia suku cadang maupun perakitan kendaraan, memahami regulasi ini bukan sekadar kewajiban, melainkan strategi bertahan hidup. Bayangkan jika produk Anda gagal masuk e-katalog pemerintah hanya karena salah perhitungan. Adakalanya, kesalahan kecil dalam verifikasi komponen bisa berakibat fatal pada hilangnya potensi kontrak miliaran rupiah.

Oleh karena itu, artikel ini akan mengupas tuntas metode perhitungan terbaru yang wajib diketahui oleh vendor BUMN dan instansi pemerintah.

Pentingnya TKDN Industri dalam Ekosistem EV

Apa itu TKDN dalam industri otomotif? Secara sederhana, Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) adalah besaran kandungan dalam negeri pada barang, jasa, serta gabungan keduanya. Dalam konteks industri otomotif dan kendaraan listrik (Electric Vehicle), angka ini menjadi tolak ukur kemandirian industri nasional.

Pemerintah mewajibkan penggunaan produk dalam negeri yang memiliki nilai TKDN tertentu. Khususnya untuk TKDN industri otomotif, angka ini menentukan apakah sebuah mobil listrik berhak mendapatkan insentif pajak atau tidak. Tanpa sertifikasi ini, daya saing produk Anda di pasar B2G (Business to Government) akan sangat lemah.

Komposisi Baru Perhitungan TKDN Barang 

Berdasarkan Permenperin Nomor 35 Tahun 2025 Pasal 4, terdapat perubahan signifikan dalam bobot faktor produksi. Berikut adalah formula rahasia yang menjadi acuan TKDN industri manufaktur saat ini:

  1. Bahan/Material Langsung (Bobot 75%): Komponen ini memiliki porsi terbesar. Artinya, pemilihan supplier lokal menjadi kunci utama.
  2. Biaya Tidak Langsung Pabrik (Factory Overhead) (Bobot 15%): Meliputi biaya investasi dan operasional pabrik.
  3. Tenaga Kerja Langsung (Bobot 10%): Tenaga kerja yang terlibat langsung dalam lantai produksi.

Komposisi 75-15-10 ini menunjukkan bahwa pemerintah sangat serius mendorong penggunaan material lokal dibandingkan sekadar perakitan.

“Untuk mendukung pembangunan Industri dalam negeri, Pelaku Usaha yang memiliki nilai kemampuan intelektual (brainware) dapat diberikan tambahan nilai TKDN Barang sebesar 20%.”.

Artinya, jika perusahaan Anda memiliki investasi R&D (Research and Development) yang kuat, Anda memiliki peluang untuk mendongkrak nilai TKDN secara signifikan.

Simulasi Cara Hitung TKDN Industri Otomotif (Studi Kasus Baterai EV)

Agar Anda lebih mudah memahami, mari kita buat simulasi perhitungan untuk sebuah komponen vital EV, yaitu Battery Pack. Kita asumsikan sebuah perusahaan, PT Maju Otomotif, memproduksi baterai dengan rincian biaya per unit sebagai berikut:

Dalam kasus di atas, meskipun tenaga kerja dan pabrik ada di Indonesia, nilai akhir bisa jatuh jika komponen utama (Sel Baterai) masih impor. Perhitungannya harus detail hingga ke level komponen terkecil.

Selanjutnya, cara hitung TKDN material dilakukan dengan mengalikan nilai TKDN masing-masing komponen utama dengan proporsi penggunaannya.

Strategi Meningkatkan Skor TKDN Suku Cadang

Untuk mencapai target TKDN industri otomotif yang tinggi, Anda perlu memperhatikan strategi supply chain. Berikut adalah langkah taktis yang bisa diambil:

  • Prioritaskan Supplier Bersertifikat:
    Sesuai Pasal 5, jika komponen utama yang Anda beli sudah memiliki sertifikat TKDN dengan nilai di atas 80%, maka komponen tersebut diakui sebesar 100% dalam perhitungan Anda13. Ini adalah “jalan pintas” legal untuk mendongkrak nilai.
  • Lokalisasi Pabrik:
    Pastikan aktivitas produksi dilakukan sendiri di pabrik milik sendiri di Indonesia. Hal ini menjamin nilai faktor factory overhead dan tenaga kerja mendapatkan poin maksimal (100%)
  • Investasi Brainware:
    Jangan lupakan aspek pengembangan. Ketersediaan divisi R&D bisa memberikan tambahan nilai yang sangat membantu kompetitivitas produk15.

Kesimpulan

Memahami cara hitung TKDN dengan regulasi terbaru adalah fondasi utama bagi keberlangsungan bisnis vendor otomotif di era modern. Pergeseran bobot penilaian yang menitikberatkan pada material (75%) memaksa industri untuk memperkuat rantai pasok lokal.

Sebagai konsultan terpercaya, kami mengingatkan bahwa ketelitian dalam verifikasi dokumen dan proses produksi adalah kunci. Jangan sampai peluang emas dalam pengadaan barang pemerintah hilang hanya karena kurangnya pemahaman regulasi.

Ingin memastikan produk Anda lolos sertifikasi dengan nilai maksimal? Pelajari layanan lengkap kami dan dapatkan strategi khusus untuk perusahaan Anda.Lihat disini untuk informasi selengkapnya.

Pertanyaan Umum Seputar TKDN (FAQ)

Banyak pelaku industri yang masih bingung mengenai teknis pelaksanaan. Berikut adalah jawaban atas pertanyaan yang sering diajukan:

1. Bagaimana cara mengetahui TKDN pesaing?

Anda dapat mengecek Daftar Inventarisasi Barang/Jasa Produksi Dalam Negeri (P3DN) di laman resmi Kementerian Perindustrian. Ini penting untuk benchmarking.

2. Berapa persen TKDN barang dan jasa untuk sektor otomotif?

Targetnya bervariasi tergantung jenis kendaraan (Roda 2 atau Roda 4) dan tahun target peta jalan (roadmap). Namun, dengan formula baru, fokus utamanya adalah memaksimalkan 75% porsi material lokal.

3. Apakah industri kecil bisa melakukan sertifikasi?

Tentu saja. Berdasarkan Pasal 26, perhitungan nilai TKDN Barang bagi Industri Kecil bahkan dapat dilakukan secara self declare (deklarasi mandiri), asalkan terdaftar di SIINas.

4. Kapan aturan ini berlaku?

Permenperin No. 35 Tahun 2025 ini mulai berlaku 3 bulan sejak diundangkan pada September 2025, yang artinya efektif penuh mulai awal 2026.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *